resensi: Nothing but the truth
Segala pekerjaan memiliki skala resiko tersendiri, termasuk menjadi jurnalis. Terlebih bila harus berhadapan dengan kekuasaan, baik politik mau pun modal.
Nothing but the truth menceritakan kisah seorang jurnalis yang akhirnya harus mendekam dalam penjara selama beberapa tahun akibat memegang kode etik pekerjaannya, merahasiakan nara sumber.
Dikisahkan seorang jurnalis politik bernama Rachel Armstrong (Kate Beckinsale) yang harus mendekam di balik jeruji besi karena tekadnya merahasiakan nara sumber.Awalnya, Rachel menulis sebuah artikel yang mengungkap skandal yang dilakukan pemerintahan AS. Dalam tulisan tersebut Rachel mau tak mau harus menyingkap identitas seorang agen CIA yang sedang dalam tugas penyamaran yang akhirnya malah membuat geger para petinggi CIA dan menempatkan Rachel dalam masalah besar.
Rachel kemudian di tangkap dan diminta mengungkap identitas sumber yang memberi informasi mengenai kasus tersebut. Rachel yang merasa itu sudah bertentangan dengan kode etik pekerjaannya menolak keras dan lebih memilih berada dalam tahanan demi profesionalisme yang ia junjung selama ini.Ia harus membayar mahal atas prinsipnya tersebut. Selain di penjara, ia harus berpisah dengan sang suami dan kehilangan hak asuh atas anaknya.
Editor atasannya, mulai tak sabar dan mengatakan para pemegang saham tak rela jika korannya harus bangkrut karena kasus ini.
Rachel tetap bersikukuh.
Terlepas dari segala prinsip yang dipegangnya, ada kegalauan yang tak diungkapkan Rachel mengenai sumber rahasianya. Inilah dilemanya. Bila ia beberkan sumber tersebut, maka namanya akan hancur. Bukan karena ia membocorkan sang sumber. Karena ia mendapatkan sumber sensitif itu dari bocah, anak si agen CIA, yang secara lugu bercerita mengenai aktivitas ibunya.
Film ini layak di tonton, terutama oleh kalangan jurnalis.


0 tanggapan:
Post a Comment