Cakrawala yang terserak
Kemarin malam, saat libur dua hari tak sengaja mataku menatap lama barisan buku-buku dikamar. Dibawah kasurku teronggak buku Maxim Gorxi "Ibunda". Tercatat, sudah delapan bulan lalu aku beli buku itu dan masih belum selesai dibaca.
Ada rasa penyesalan saat memandangi buku itu, ditambah saat aku melihat buku-buku lainnya, dan terlihat (biasanya setiap buku selalu kutandai kapan beli, harganya dan dimana. Kadang saat bersama siapa dan momen apa) ada yang sudah setahun aku beli, namun masih bab satu yang baru dibaca.Sudah selama itu aku menyia-nyiakan waktu untuk mengarungi World Of Mind.
Aku berbayang, kalau saja aku arungi waktu - waktu luang bersama-buku buku ku, akan banyak sekali hal yang aku dapat.Tapi ah, tak usah sesal, toh belum ada kata terlambat.Sifat konsumerismeku tak disalurkan dengan barang2 konsumtif, tapi mostly ke buku-buku. Lapar mata? Mungkin aku kayak gitu. tapi gak gitu-gitu amat sih.
I still believe, bacaan adalah jendela dunia. Enggak bisa kubayangkan aku sekarang kalau dulu enggak rajin baca dan diskusi. Mungkin secara pendidikan enggak akan ketahuan karena terlihat berpendidikan. Tapi akan sama saja dengan mereka yang berpendidikan tinggi, namun buta huruf intelektual. Dan aku pun melanjutkan bacaan Ibunda kembali..


0 tanggapan:
Post a Comment