Monday, October 15, 2007

Get Married, kenikmatan yang anti klimaks

Film buata Starvision hasil besutan Hanung Bramantyo ini cukup bertabur bintang. Mulai dari Aming, Ringgo, Desta dan Nirina menjadi salah satu nilai jual disamping ketenaran nama hanung dan cerita film tersebut.

Film yang bercerita mengenai empat sahabat yang "frustasi" ditengah kompetisi metropolitan yang ketat, membuat mereka 'tak dapat' keluar dari kampung kumuh mereka. Awal cerita dimulai dengan cerdas dan mengasyikkan. Suasana kontras begitu kuat antara gambar dengan narasi. Walhasil, pesan awal mengenai keresahan sosial yang ingin disampaikan, bisa dibilang tepat mengena.
Bisa dibilang, tema yang ingin disampaikan begitu oke.

Berkisah mengenai Mae (Nirina Zubir) yang bercita-cita menjadi polisi wanita, namun saat kuliah ia malah dimasukkan ke akademi sekretaris oleh orang tuanya. Eman (Aming) ingin mengabdikan dirinya di dunia politik, jadi politikus, dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya.
Nah Beni (Ringgo Agus Rahman) yang bercita-cita jadi petinju malah masuk sekolah pertanian. Dan Guntoro (Desta ‘Club Eighties’) yang berangan-angan jadi pelaut biar bisa keliling dunia, malah bisa merasakan kursus komputer. Jadilah mereka anak-anak muda yang frustrasi yang mengisi hari-hari mereka dengan gaple bersama.
Kisahnya bermula saat orang tua Mae (Meriam Bellina dan Jaja Mihardja) menginginkan Mae mendapat jodoh. Disini adegan-adegan kocak yang diramu sang sutradara terbilang sukses.

'Kebanyakan bintang' dalam film ini benar-benar membuat penonton serasa dimnjakan oleh selebriti-selebriti yang dikenalnya beradu akting. Aku mengajukan sebuah asumsi, ada kemungkinan bertaburnya bintang ini juga sebagai antisipasi untuk mendongkrak film. Hal yang bisa di mahfumi sekaligus perhitungan pragmatis yang lumrah. Yang membuat menarik, jalan ceritanya juga sepadan dengan nama-nama tersebut.

"Memanusiakan" kehidupan kaum marjinal adalah salah satu tema yang diangkat. Dalam pengertian mencoba 'membumikan' tindak tanduk yang dalam keseharian masyarakat menengah terdengar kasar, menjadi amat familiar, undangerous. Kata-kata yang tak pantas seperti ungkapan anjing, monyet (yang umumnya juga dipakai anak-anak sekarang) serta black joke (seperti menggeplak kepala, menampar pipi), pada hakikatnya adalah manifestasi dari keakraban yang terjalin diantara mereka, kelucuan dan mungkin juga implementasi perasaan 'sayang' diantara satu sama lain.

Namun ada bagian, yang menurutku, amat mengganggu. Tepatnya, anti klimaks dari film ini yang dikatakan hanung adalah hasil karya terbaiknya, saat dialog yang kurang lebih berbunyi, "Loe kelamaan di State. Ini Indonesia, loe harus pakai cara Indonesia," saat si tokoh cerita -yng baru saja dipukuli teman temanya Mae- dinasehati temannya agar membalas dendam. Tawuran.


Ini adalah sindiran terhadap budaya amok yang masih bercokol di Indonesia. Aku tak terjebak dalam chauvinistik. Namun sindiran tersebut disampaikan terlalu vulgar, sehingga filosofi 'biarkan penonton menilai melalui gambar dan narasi' menjadi hilang. Dimulai dari situ, adegan-adegan yang selanjutnya menjadi 'aneh', untuk tak mengatakan absurd.
Sang sutradara atau penulis naskah mungkin bingung mencari entry point awal terjadinya tawuran, hingga dimasukkanlah adegan para pemuda kompleks elit yang tak rela temannya dihina oleh anak-anak kampungnya Mae. Tak masuk akal memang, kok anak kompleks yang yang dalam dunia nyata tak saling mengenal satu sama lain mau-maunya terlibat tawuran.

Adegan tawuran pun digelar yang memakan waktu bebeapa menit. Disini, mungkin bagi yang menyukai estetika gambar, frame ini cukup mengganggu. Terlalu banyak roll adegan. Kalau di dunia televisi, roll frame kok sampai satu segmen? Mencoba berandai-andai, kalau saja adegan tawuran itu hanya di roll sedikit dan cut to cut diperbanyak, akan lebih nyaman. Ditambah dengan gambar ekspresi dan tingkah lucu para pemain saat tawuran. Mengenai teknik pengambilan gambar, tentunya dunia film amat menguasai dan kualitas para pekerja film Indonesia tak diragukan lagi. Jujur, aku pun sering terinspirasi oleh pengambilan gambar di film. Hanya mungkin, ada perbedaan.

Intinya adalah, masih amat sedikit film indonesia yang bisa menjaga stamina. Artinya, dari awal yang bagus hingga endingnya tetap konstan. Syukur-syukur meningkat. Sayangnya tidak. Film ini pun terjebak dalam menjaga stamina kualitas. Tampaknya film Indonesia harus belajar banyak dari film-film Hollywood dan Perancis yang mampu menyampaikan pesan atau propaganda dengan cara yang nyaris sempurna. Tak percaya, lihatlah film 300
yang diputar seiring dengan meningkatnya ketegangan antara dunia barat dengan Iran soal Nuklir. Tak jauh beda dengan film Mendadak Dangdut yang menurut seorang teman "ekspektasi gue ketinggian sama film ini. Jadinya kecewa." Film Rudi Soedjarwo ini dalam penargetan segmen penonton pun bisa dibilang bias karena Rudi mengaku ingin meraih penonton kelas bawah dan atas. Optimisme dapat meraup penonton arus bawah karena menyodorkan dangdut dan suasana pinggiran dan menjual Titi Kamal serta model Kinaryosih yang diharapkan mampu menggaet segmen A&B.

Namun film ini memang enak ditonton dan bila anda ingin ke kamar mandi atau beli pop corn lagi di kantin bioskop, ada baiknya kalau usai adegan Bobby sedang menasehati temannya itu.
Sebagai tontonn hiburan yang bertujuan meraup keuntungan, aku yakin akan kesampaian. Untuk film berkualitas, maaf tak ada tempat untuk itu. Walau keempat bintang utama harus diakui bermain all out dan amat bagus. Get Married, kok jadi seperti bukan Hanung yang gue kenal lewat Lentera Merah...


Selamat menonton!

1 tanggapan:

mbek said...

:) hmm review anda memang menarik, tapi saya boleh berkomentar khan??... :) seorang Hanung bramantyo sutradara muda dan sangat berideologi ini sangat saya kenal malah dengan stylenya di film CAS ...:) lentera merah juga ok dan itu tidak sekaliber CAS walaupun brownies juga menyabet piala citra..:) seorang sutradara memang sangat mempunyai kebebasan dalam menentukan viewPoint, ketika di CAS pun, dengan opening longTake selama kurangLebih 8menit itu sangatlah ok .. :) aku juga sutradara walaupun hanya sekelas film independent... ok, now to the point of GetMarried... :)

menurutku, film ini memang menghadirkan hiburan disamping banyaknya bintang yang bertebaran untuk 'mendongkrak' selling point.. dan ketika saya lihat sebelum masuk ke gedung bioskop, ada 2 poster film hanung berdiri bersamaan Get Married dan SundelBolong.. wah :) sangat produktif mas hanung ya.. dan sebentar lagi Ayat Ayat cinta siap luncur.. :) sebuah referensi awal ketika akan menikmati film getMarried .. dan menurutku sekali lagi, pelan pelan Memang kita harus Menemukan JatiDiri film kita,... gw sendiri ogah ketika harus selalu mengaca pada hollywood atau perancis malah.. mungkin sebagai figur Kubrick dan Godard sangat saya pelajari, namun kalay terus mengaca pada Hollywood ataupun Perancis.. wah gw ga setuju sih :) ... adegan long take di perkelahian menurutku lumayan juga kok dan bukannya 'boros' karena terlihat apa yang mau disampaikan oleh MasHanung disini, walaupun ada sedikit juxtaposed aku rasa seorang FaozanRizal ga mungkin akan begitu saja mengambil angle tersebut, pasti diaMempunyai satu maksud sendiri disini... :) dengan dialog itu... gw jadi sadar man.. kalau sudah saatnya negara dunia ke3 ini kaya Indonesia harus bangun untuk berkarya dengan penuh ideologi,... yah mungkin industri Film kita masih kejar tayang, dengan film 1minggu jadi,... namun penggarapan getMarried sangatlah matang.. karena lebih dari 2bulan film ini di proses..

scene scene yang dihadirkan justru sangat ringan dan benar2 nikmat untuk dinikmati, tanpa kita harus kehilangan pesan framing mungkin atau pesan dialog yang lugas.. dan aku sebenernya juga kurang setuju kalau getMarried digolongkan ke hiburan ringan... dari judul sudah bisa kita petik.. menurut saya sih.. bahwa memang kita harus beranjak..

sebuah drama tiga babak yang fresh bisa aku nikmati disini tanpa mengenyampingkan sebuah pesan antara 2 dunia real estate dan kampung juga sebuah kritikan kritikan tajam aku lihat disini... walaupun aku kurang begitu yakin dengan permainan alur di Kamulah SatuSatunya .. ternyata memang sajian di GetMarried bisa kok membuat kita tersenyum serta sambil kembali memikir langkah kedepan kita,... seorang Aming dan Desta terlihat all out ditangan seorang Hanung, dan Nirina tidak kehilangan kesan childis nya disini... :)

satu saja sih mungkin aku merasa kurang dari film itu.. :) adegan konyolnya kurang konyol.. hehehe itu menurutku.. :) anyway,... entah dendam kesumat akan Nayato a.k.a Koya Pagayo atau memang Hanung mau allOut di tahun ini sehingga 5 film dalam hitungan satu tahun ini bisa dia kejar ... produktif memang sangat membuat kita berada di 2 pilihan, berkualitas atau kejar tayang,.. namun Hanung Bramantyo masih bisa kok mengejar yang berkualitas.. \;) mungkin kalau hanung benar benar berkesempatan mendirect film tentang PKI yang keseluruhan film itu benar2 film sejarah... wah benar2 akan tercapai impiannya... seperti topeng kekasih dan Lentera merah, dia tetap memasukkan unsur PKI dalam ceritanya.. yah :) memang setahuku dia sangat penasaran dengan hal itu mengingat ultahnya pas pada tanggal sakral kejadian bersejarah di Indonesia :) ...

anyway bussway aku sangat terhibur dengan getMarried serta sangat membuat aku tetap semangat dalam dunia film, dan komentarku tetap ... kita GAK HARUS TERUS2AN BERKIBLAT PADA DUNIA BARAT.. :) kalau mau mengejar hollywood, gw rasa ga ada yang bisa mengejar teknologi raksasa itu... jadi ya buat apa kita mengejar hal yang menjerumuskan?? toh Hollywood juga ga pernah peduli ama film kita.. :) sebagai refferensi sih ok... kalau mau kejar.. :) yah silahkan saja mengejar hehehe... oks

-mbek-
qubrick.multiply.com
www.bisikansenja.cjb.net
www.lowongan-pekerjaan.cjb.net
mail : kontak@tigasahabat.cjb.net

kampungblog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

citizen journalist

KabarIndonesia