Get Married jilid II
Sebagai penikmat film Indonesia, aku melihat kekurangan film kita dalam hal menjaga ritme film hingga akhir. Dus, penyampaian pesan.
Dua faktor inilah yang aku pikir menjadi catatan penting untuk lebih maju. Tak harus anti pati terhadap Hollywood atau Perancis, paling tidak ada hal-hal yang dapat dipelajari dari sana. Walau aku setuju tak harus masuk dalam langgam mereka. Menjaga ritme cerita, penyampaian pesan, dan effect. Tiga hal inilah yang membuat masyarakat (indonesia dan dunia?) tertarik menontonnya.
Dalam film Get Married, aku lebih menyoroti kontinuitas ritme cerita dan penyampaian pesan. Sayang Mbek tidak menyoroti dua faktor yng aku sebut karena di titik itulah , aku sebagai penikmat amat merasakan 'anti klimaks' dari film - film indo yang ku tonton.
Hampir sebagian besar Get Married aku amat menikmatinya, terlebih para pemainnya bermain all out. Sebagai sutradara, Hanung patut di acungi jempol. Soal gambar memang aku terlalu 'lancang' mengkritisinya karena dunia televisi dan dunia film dalam pengambilan angle berbeda. Dalam postingan sebelumnya, aku bilang aku amat mengagumi pengambilan gambar di film. Dan sering kali itu menjadi inspirasi dalam tugas jurnalistikku.
Mengapa Hollywood sukses dalam menyebarkan budaya liberal Amerika plus produk-produknya, aku melihatnya karena pengemasan tujuan mereka amat bagus.
Sebagai contoh, untuk mengatasi pola makan anak-anak Amerika yang tak mau mengkonsumsi sayur-sayuran, maka dibuatlah film Popeye si pelaut yang menjadi trend dikalangan anak-anak.
Dalam film tersebut tak ada penyampaian pesan kalau mengkonsumsi bayam itu baik untuk tubuh. Menyampaikan pesan tanpa terlihat sedang 'berbicara' benar-benar sukses.
Hanung lewat Get Married memang tak bermaksud membuat film propaganda atau bermaksud menyampaikan 'pesan titipan'. Ini adalah film hiburan.
Namun seorang sineas atau pun jurnalis, dalam berkarya bukanlah seperti akunting atau pun bankir. Disana -di karya kita-, memperlihatkan emosi, pikiran yag sedang kita pikirkan dan syukur kalau mampu mentransformasi nilai-nilai kebaikan bagi masyarakat. Tentunya tetap berpijak pada etika profesi dan etis-etis lainnya dalam karya tersebut.
Akhir kata, aku bermimpi kelak akan menonton film Indonesia layaknya aku amat menikmati Trilogi Bourne, Life is Beautiful, atau pun Love Actually. Aku juga menikmati Jelangkung dan Gie (walau kurasa banyak fakta yang dipenggal, namun aku mengerti).Dan saat menikmat film kelak, aku tak peduli itu film Hollywood, perancis, Rumania atau karena slogan kita harus nmencintai film buatan dalam negeri (kayak slogan FFI zaman jebot! he..he..). Namun karena yang aku tonton itu bermutu dan nikmat. Dan tak heran kalau ,kelak, film-film impor di Indonesia tak banyak diminati penonton kecuali yang berkualitas dari sisi hiburan.
Tabik!!


0 tanggapan:
Post a Comment