Absurditas
Kita menjalani penalaran yang absurd!
Kenapa sopir angkutan umum sedari dulu hingga kini selalu ugal-ugalan dan taraf hidupnya enggan beranjak dari garis kemiskinan? Karena Saat tarif naik, uang setoran juga naik sehingga sami mawon? Mengapa juga disiplin mereka masih saja seperti abad megalitikum?
Kenapa petani masih masih saja terpendam dalam garis kemiskinan? Padahal harga beras cukup mahal saat ini?
Kenapa para pekerja (kerah putih dan kerah biru) belum banyak yang menjadi pengusaha, padahal mereka berada dalam perusahaan?
Inikah absurditas yang dijejalkan pada kita?
Penalaran yang absurd. Manusia Absurd. Kreasi absurd. Harapan dan absurditas. Ataukah kita harus mengakui kalau kita juga warga negara absurd yang diperintah oleh pemerintah absurd dalam republik absurd?
Rasionalitas yang di 'cekokkan' pemerintah hingga rezim Soerarno hingga pemerintah kini, pun, sering kali terasa absurd.
Contoh kontemporernya, penciptaan jalur bus way di Jakarta yang mengambil satu jalur tak secara cepat diiringi oleh pembatasan kendaraan pribadi dan kenaikan pajak kendaraan bermotor berlipat-lipat. Pembuatan jalur Bus way dan pembangunan monorail yang tanpa persiapan matang membuat penguasa kota kaget saat jalan-jalan ibukota negara menjadi macet total, jelas-jelas adalah kreasi absurd.
Harapan akan munculnya pemimpin baru -bukan wajah lama yang itu itu aja-, bahkan terasa menjadi harapan absurd. Hidup kita sungguh-sungguh dikelilingi oleh absurditas. Mitos sisifus yang diluncurkan oleh Albert Camus 65 tahun silam menjadi rujukan utama artikel ini, didsamping rasionalitas-rasionalitas absurd yang menjadikan kepala kita berkabut.
Tak ada yang bisa lari dari absurditas. Disana seolah ada pertempuran antara dua kutub, dua sisi, dua wajah dan dua kepribadian. SEperti moralitas yang coba di patahkan eksistensinya menghadapi demoralisasi yang kini seolah 'ngetren'.
Lalu, dimana kita meletakkan diri dalam atmosfir absurd? Menurut Camus, kematian adalah jenis absurditas yang penuh kepastian. Menurut Syeh Siti Djenar, "kematian adalah awal kehidupan." Jelas, ada kesamaan pola diantara keduanya. Kesamaan konsep ide dan gagasan walau keduanya terpaut zaman yang cukup jauh, juga lokasi.
Absurditas menuju postmodernisme. Dimana tren negasi ke negasi menjadi sesuatu yang dipegang teguh. Dimana semua kepastian dan sesuatu yang mapan patut diragukan dan dipertanyakan kembali. Tak ada kepastian sejati kecuali keraguan dengan kepastian.
Tabik!!
Note = Absurd (kata sifat) : sesuatu yang mustahil atau membuat tertawa. Berasal dari bahasa Latin absurdus yang masuk lewat bahasa Belanda dan Inggris. Dalam konteks filsafat sering diartikan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal; sia-sia. Tidak masuk akal di sini bukan berarti bertentangan dengan akal sehat, tetapi bertentangan dengan idealisme seseorang yang memandang absurditas tersebut. Jadi yang dimaksud absurd adalah sesuatu yang tidak masuk akal menurut seseorang, bukan ( tidak harus ) menurut orang kebanyakan.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Absurd"
Di dongengi oleh, fau the thinker


0 tanggapan:
Post a Comment