Monday, January 09, 2012

Puisi Martin Niemoller

Martin Niemoller (14 Januari 1982 – 6 Maret 1984)

Awalnya mereka mengincar para katolik,
Tapi aku seorang protestan.. jadi aku diam saja.

Lalu mereka datang mencari para komunis,
Aku bukan seorang komunis...jadi aku diam saja.

Kemudian mereka mulai mengincar para anggota serikat buruh,
Tapi aku bukan anggota...jadi aku diam saja.

Terakhir mereka mencari-cari orang yahudi,
Aku bukan yahudi...jadi aku diam saja.

Saat mereka datang untuk menahanku... tidak ada lagi orang yang tersisa untuk bicara.
Sent from my BerryHitam®powered by Sinyal Kuat fausat Selengkapnya...

Monday, January 02, 2012

Restless..

I always restless and unable to live in peace..

Have you wake in the night when you think about something?

Have you feel worry and it bother your sleep?

Have you worry about something, so worry.. You can't tell that to noone, to ur couple. Even to your own blog?

Pfff....
Sent from my BerryHitam®powered by Sinyal Kuat fausat Selengkapnya...

Maksimalisasi blog leewat twitter

Penonton di twitland. Bukan penyuka kicau, hanya menggandrungi kicau-kicau disana.

Twitter sarana efektif dlm melakukan segala. Penyebaran kabar terkini, informasi bener ampe fitnah. Gamang mana yg bener diantara info2 bersliweran? Yah jangan gamang. Utk menghadang informasi2 yang mengalir deras, pertama pilah mana yg penting dan gak penting buat dirimu. Parameternya, yg sesuai dg kepentinganmu saat ini, trus yg sepaham dg keingin tahuan terkini. Kedua, filing. Tetap saja twitter ada kekurangan dari blog. Dia gak bs jadi tempat pengarsipan.
Info-info yang dah kamu screening, kamu transformasi ke blog. Biasanya kalo aku, di re-edit dl tata bahasanya.
Cantumin sumber. Ini maha penting. Cantumin.

Kalo blog kamu ada link ke twitter, pake deh. Kamu promoin lagi ke sana. Banyak blogger-blogger yang juga promosikan blognya lewat twitter. Pengunjungnya justru semakin banyak. Sebut saja @anton_djakarta, @misterius.

Oke selamat mencoba.
Kalo mau follow aku, @just_fau


Bye..
Sent from my BerryHitam®powered by Sinyal Kuat fausat Selengkapnya...

Sunday, June 05, 2011

Tes

Tes via blackberry
Sent from my BerryHitam®powered by fauSat Selengkapnya...

Friday, December 11, 2009

Ada cerita yang sangat menyentuh nih, untuk para Moommie's

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica.
Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga.


Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.

Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya.
Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.
Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric...
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric..

Eric...
Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. ..

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?" Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis
ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia.. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata di irlandia utara)
Dikutip dari http://www.parentsguide.co.id/smf/in...topic=482.0;wa http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2908350
Selengkapnya...

Tuesday, September 22, 2009

Anti-ISA Rally (1st August 09)

foto rafzan ramli
Selengkapnya...

Friday, August 14, 2009

orangtua bunuh anak

Anjrit!! Iki gilooo iki...

MUlyadi, bocah 10 tahun yang biasa ngamen di kemayoran, tewas membusuk setelah dianiaya kedua orang tuanya.

Jenazah bocah cilik itu ditemukan dengan kondisi membusuk di kamar kontrakan yang disewa 350 ribu per bulan di daerah kebon kosong, kemayoran, jakarta pusat.
Mulyadi tinggal di kamar sempit tersebut bersama kedua orangtuanya. Bapaknya MUlyadi adalah sopir bajaj yang nyambi jadi pengamen dan ibunya pengamen.

Tetangga mereka bilang korban sering di pukuli. Saat ditemukan jenazahnya, pintu tergembok dari luar dan orang tuanya pergi begitu saja.

kampret ortu kayak gitu.
Selengkapnya...

Konser musik interaktif

Ide gila Musisi beken Inggris, David Bryne, patut ditiru. Ia menggelar konser musik interaktif yang melibatkan penonton. Penonton juga ikut maen musik di konser?

Vokalis Talking Heads ini merancang sebuah istrumen keyboard yang memiliki banyak kabel pada bagian belakang dan tersambung dengan konser musik. Jadi siapa aja bisa ikutan maen keyboard tanpa canggung.

Aneh, tapi keren..
Selengkapnya...

pembunuhan atas nama rating

Cara yang dilakukan Souza benar-benar tak patut ditiru oleh anchor tv di mana pun. Demi menaikkan rating program acara kriminalnya, ia melakukan serangkaian pembunuhan.

Souza/ pembawa acara program kriminal di sebuah stasiun tv di Brazil menjadi tersangka atas beberapa pembunuhan berencana di sekitar Amazon. hal tersebut dilakukannya agar rating program acaranya dapat mengalahkan rivalnya di tv lain dan meningkatkan jumlah penonton.

Selain Souza, anaknya -Rafael- pun turut di tangkap atas lima pembunuhan. Setelah pembunuhan dilakukan, ia lalu menyuruh kru televisi datang sebelum aparat kepolisian. Walhasil, ia didakwa dengan pembunuhan berencana,perdagangan narkoba dan kepemilikan senjata ilegal.

*source, kilas dunia2*


Selengkapnya...

Thursday, August 13, 2009

Resensi: Swordless Samurai

LAHIR sebagai anak petani miskin, bertampang jelek, pendek, tanpa status dan tak mendapat pendidikan memadai, mungkin bagi sebagian besar orang seperti ditimpa "kutukan". Pasalnya, nyaris tak ada kelebihan yang dapat dibanggakan untuk menatap masa depan. Tapi kutukan seperti itu tidak membuat Hideyoshi meratap sedih. Meski ia lahir di Jepang abad ke-16 pada zaman perang antar-klan (masa kekacauan) yang menuntut orang lihai bermain pedang,..

sehingga tak membuka peluang Hideyoshi memiliki tempat bertahan hidup, apalagi berkarier bisa jadi pemimpin besar, tetapi Hideyoshi bisa membalik semua kesialan itu menjadi keberuntungan.

Hideyoshi bisa menjahit takdir kemiskinan menjadi kemujuran. Ia tak menjadikan kekurangan itu menentukan jalan hidupnya. Ia terus memupuk semangat untuk jadi pemimpin dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi dan logistik daripada tombak. Tidak mustahil jika seiring perjalanan waktu, ia mampu menapaki hidup dari petualang menjadi pemegang kedaulatan tertinggi Jepang sebagai wakil kaisar. Lalu, apa rahasia yang dipraktekan anak petani miskin yang dijuluki "monyet" itu sehingga bisa sukses?

Dalam buku The Swordless Samurai; Kebijakan Kepemimpinan Legenda Jepang Abad Keenam Belas Toyotomi Hideyoshi, Kitami Masao --dengan cara bertutur mewakili tokoh Hideyoshi-- mengungkapkan, "Keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas" (hal. 5). Memang, dasar-dasar itu begitu sederhana. Tapi Hideyoshi menjalankan prinsip hidup itu melampaui kewajaran. Ia bekerja tiga kali lebih keras, mengabdi tiga kali lebih setia, memberi penghargaan tiga kali lebih tinggi, dan juga bertindak keras pada diri sendiri lebih dari orang lain. Maka, ia berhasil menjadi pemimpin.

Lahir sebagai anak petani miskin di Nakamura propinsi Owari, sebenarnya Hideyoshi sungguh dilahirkan dalam keadaan tidak beruntung. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun, lantas ibunya menikah lagi (dengan seorang petani). Sewaktu kecil, ia tergolong nakal dan benci sekolah. Maka para biksu angkat tangan dan mengembalikan Hideyoshi pulang ke rumah. Saat ibunya memintanya untuk meninggalkan rumah guna mencari kerjaan, Hideyoshi selalu dipecat dan pulang lagi ke rumah. Padahal, di rumah ia selalu bertengkar dengan ayah tirinya.

Ketika ia berusia usia lima belas tahun, ia meninggalkan rumah dan berjanji kepada ibunya bawah ia tak akan pulang sebelum berhasil meraih apa yang dia impikan. Dia berpetualang, tidur di jalanan, dan kerap kelaparan; jadi pedagang jarum keliling, menjalani pekerjaan rendahan. Setelah lelah menggelandang, Hideyoshi sempat ikut klan Matshushita sebelum mengabdi Lord Nobunaga. Awal mengabdi pada Nobunaga, ia jadi pelayan pembawa sandal tapi hal itu tak mengurangi pengabdiannya. Apalagi -di mata Hideyoshi- Nobunaga adalah pemimpin yang luar biasa dan memiliki visi ke depan.

Kerja keras, pengabdian dan kesetiaan yang diukir Hideyoshi lambat laun membuahkan hasil. Ia menapaki jabatan; dari pembawa sandal jadi pengelola kayu bakar. Setelah dia berhasil mengubah kemustahilan menjadi kenyataan saat ia memenuhi tantangan membangun benteng Kiyoshi, dia pun naik jabatan jadi prajurit. Lalu, ketika dia kembali berhasil membangun benteng Sunomata, dan berhasil menyusun strategi perang yang bisa mengalahkan beberapa lawan, ia diangkat jadi jendral.

Karier Hideyoshi melesat cepat dan ia memiliki jiwa memimpin. Bahkan dia berhasil menjadi pemimpin saat krisis. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Tak cuma di situ, ketika Nabukatsu dan Nobutaka --anak kedua dan ketiga Nobunaga, tapi dari selir-- saling berebut kekuasaan, Hideyoshi menengahi perselisihan (meski pun pada sisi lain; untuk menyelamatkan dirinya) dengan mengangkat Samboshi, cucu Nobunaga dari (putra mahkota) Nobutada yang ikut meninggal bersama Nobunaga. Karena Samboshi masih bayi, maka Hideyoshi menjadi wali.

Hidoyoshi kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Ia meraih jabatan tertinggi dimulai dari bawah tak mengandalkan silsilah, melainkan otak dan kerja keras. Tapi tak ada manusia yang sempurna. Setelah jadi wakil kaisar, dia terlena; sombong, lupa diri. Setelah Jepang damai, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk mengekang obsesi menggempur Korea dan China.

Ditulis Kitami Masao dalam bentuk pengakuan (dengan gaya bertutur; "aku" Hideyoshi), buku ini mengungkap cukup adil riwayat hidup Hideyoshi. Tak salah, jika buku ini tak hanya mengisahkan setumpuk prestasi dan keberhasilan Hideyoshi, melainkan juga setumpuk kegagalan setelah ia meraih jabatan. Dilengkapi dengan setumpuk data; berupa lembaran surat, dokumen dan penelitian para ahli sejarah, penulis menjamin; bahwa buku ini mendekati akurat di tengah-tengah mitos yang melingkupi kepemimpinan Hideyoshi.

Lebih dari itu, buku ini menawarkan setumpuk prinsip juga rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan Hideyoshi dalam menapaki karier menjadi wakil kaisar. Maklum, karena buku ini tak hanya sekedar cerita tentang keberhasilan Hideyoshi melainkan juga berisi prinsip, rahasia sukses dan kebijakan politik "sang pemimpin besar" yang dicatat oleh sejarah. Dengan prinsip-prinsip itu tentu pembaca bisa merengkuh pelajaran berharga dari kebijakan-kebijakan politik Hideyoshi.

Apalagi, buku ini terbit dalam edisi Indonesia pada saat yang tepat. banyak elite politik yang haus kekuasaan untuk jadi pemimpin dan pejabat, Seperti caleg serta capres menjelang pemilu 2009. Karena itu, buku ini bisa jadi semacam panduan untuk para pemimpin. Sebab dari kepemimpinan Hidoyoshi, terpantul rasa empati pada rakyat yang bisa jadi pelecut bagi elite politik di negeri ini untuk tidak mengesampingkan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Pasalnya di balik riwayat hidup Hideyoshi, penulis menuturkan beberapa nasehat, petuah bahkan kebijakan politik yang digali dari setiap lembaran hidup yang pernah ditapaki Hideyoshi. ***

*) N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008
Selengkapnya...

kampungblog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

citizen journalist

KabarIndonesia